75% Pengguna Indonesia Akses Canva dari HP, Startup Ini Ditunda IPO-nya ke 2027
Canva mencatat 75% pengguna Indonesia mengakses platform dari HP. Pendapatan 4 miliar dolar, tapi IPO ditunda ke 2027 karena biaya AI. Persaingan dengan Google Pics makin ketat.

Bayangin ini: setiap menit, hampir 3.000 presentasi dan 1.000 dokumen baru lahir di Canva. Bukan di laptop kantor yang canggih, tapi sering kali di layar 6 inci yang dipegang satu tangan di kos-kosan, di angkot, atau di pinggir warung kopi. Canva sudah mencatat lebih dari 4,5 miliar presentasi dan 1,4 miliar dokumen dibuat di platform mereka sejak awal 2026. Dan angka itu belum berhenti naik.
Yang bikin makin menarik, di Indonesia, hampir dua dari tiga presentasi Canva dimulai dari HP. Bukan sekadar "bisa diakses dari mobile," tapi memang dimulai dari sana, dari nol, dari genggaman tangan. Canva bukan lagi sekadar tool desain buat desainer. Mereka sudah jadi mesin produktivitas visual yang berjalan di saku jutaan orang Indonesia.

75% Pengguna Indonesia Nggak Buka Laptop untuk Canva
Cameron Adams, co-founder Canva, pernah bilang angka ini secara terbuka: 75% pengguna Canva di Indonesia mengakses platformnya lewat perangkat mobile. Itu bukan rata-rata global. Itu spesifik Indonesia, salah satu pasar terbesar Canva di dunia. Di Filipina, angkanya bahkan lebih ekstrem: tiga dari lima presentasi dimulai dari ponsel. Secara keseluruhan di Asia Tenggara, lebih dari separuh presentasi Canva dibuka di HP duluan, baru kemudian mungkin dilanjutkan ke desktop.
Kenapa ini penting? Karena selama bertahun-tahun, industri software beranggapan bahwa "serious work" harus dilakukan di desktop. Presentasi, dokumen, desain branding, semuanya identik dengan laptop atau komputer. Tapi Canva mematahkan asumsi itu. Mereka merancang produk yang benar-benar bisa dipakai dari layar kecil, bukan sekadar versi responsif yang memaksa kamu zoom in-out terus. Hasilnya, jutaan orang Indonesia yang mungkin nggak punya laptop bisa tetap bikin presentasi profesional, dokumen kerja, bahkan materi pemasaran, semua dari HP.
Dari Desain Grafis ke Platform Produktivitas Visual
Cara Canva berkembang itu unik. Dulu kita kenal Canva sebagai tool buat bikin poster, CV, atau feed Instagram. Tapi sekarang Canva Docs sudah jadi jenis desain ketiga paling populer di platform mereka, dengan adopsi yang berlipat tiga dalam tiga tahun terakhir. Presentasi dan dokumen bukan pelengkap lagi. Mereka sudah jadi produk inti.
Cameron Adams sendiri menyatakan bahwa "produktivitas dan kreativitas sudah dipisahkan terlalu lama, tanpa alasan yang bagus." Kalimat itu, singkat tapi tajam. Selama ini, kalau kamu mau bikin dokumen, pakai Google Docs atau Microsoft Word. Kalau mau bikin desain, pakai Canva atau Figma. Canva mau menghapus pemisahan itu. Satu tempat, semua kebutuhan visual dan produktivitas, tanpa harus bolak-balik antar tool. Dan untuk pasar seperti Indonesia, di mana HP adalah perangkat utama, pendekatan ini jauh lebih relevan daripada harus pakai desktop.

Pendapatan 4 Miliar Dolar, tapi IPO Tetap Ditunda
Canva mencatat pendapatan tahunan sebesar 4 miliar dolar AS pada 2023, dengan delapan tahun berturut-turut profitable dari sisi free cash flow. Itu pencapaian yang jarang bagi startup teknologi, apalagi yang belum IPO. valuasi terakhir yang diketahui adalah 42 miliar dolar dari penjualan saham karyawan pada Agustus 2025. Angka yang gila untuk perusahaan yang dulu cuma mau bikin desain lebih gampang.
Tapi di balik angka-angka megah itu, ada satu masalah besar: biaya AI. Canva harus menunda rencana IPO mereka ke 2027 karena biaya implementasi AI memaksa mereka memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan ke 20%. CEO Melanie Perkins secara terbuka mengakui bahwa Canva "perlu mengurangi biaya penyelesaian tugas AI." Bukan berarti strategi AI mereka salah. Tapi pasar sekarang menuntut efisiensi, bukan sekadar fitur baru. Investor ingin lihat bahwa Canva bisa menghasilkan margin yang sehat dari AI, bukan cuma menghabiskan uang untuk menjalankannya.
Canva AI 2.0: Lebih dari Sekadar Generate Gambar
Canva AI 2.0 diluncurkan pada April 2026, dan ini bukan sekadar update kecil. Mereka memperkenalkan agentic tools, yaitu AI yang nggak cuma merespons perintah, tapi bisa menjalankan tugas secara otonom. Prompt yang bersifat percakapan, integrasi langsung dengan Gmail dan Slack, serta kemampuan untuk memahami konteks pekerjaan kamu secara lebih dalam. Dalam a16z AI Rankings pada Maret 2026, Canva menempati peringkat ketiga sebagai produk AI web paling banyak digunakan, dan peringkat keempat sebagai aplikasi AI mobile paling populer.
Yang menarik dari pendekatan Canva adalah filosofi mereka soal "human element." Cameron Adams menjelaskan bahwa pengguna AI nggak bisa sekadar "klik kirim" dan beres. Mereka butuh platform yang memungkinkan mereka "masuk lebih dalam, menggerakkan elemen-elemen di sekitar." Canva mau AI yang membantu, bukan AI yang menggantikan. Mereka menyebutnya sebagai langkah "melampaui AI slop," yaitu konten generik yang terlihat sama semua. Dengan pendekatan ini, Canva mencoba menjaga kreativitas manusia tetap menjadi pusat, sementara AI jadi alat bantu, bukan pengganti.
Google Pics: Pesaing Baru yang Langsung Menyasar Wilayah Canva
Pada 1 September 2026, Google meluncurkan Google Pics, tool desain berbasis AI yang langsung terintegrasi ke dalam Google Workspace. Ini ancaman serius. Google Workspace sudah dipakai jutaan organisasi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kalau bikin desain bisa langsung dilakukan dari Google Docs atau Gmail tanpa harus membuka aplikasi terpisah, mengapa harus pakai Canva?
Tapi di sinilah posisi menarik Canva. Mereka sudah terlalu dalam di pasar mobile-first, terutama di Asia Tenggara. Canva sudah memahami perilaku pengguna yang nggak punya laptop, yang kerja dari HP, yang butuh desain cepat tapi profesional. Google Pics mungkin punya keunggulan dari sisi integrasi ekosistem, tapi Canva punya keunggulan dari sisi pengalaman mobile yang sudah matang. Pertarungan ini baru dimulai, dan hasilnya belum bisa diprediksi.
Apa Artinya untuk Kamu yang Pakai Canva dari HP
Kalau kamu termasuk jutaan orang Indonesia yang mengandalkan Canva dari ponsel, ada beberapa hal yang layak diperhatikan. Pertama, Canva terus mempercepat rilis fitur mereka. Sejak awal 2026, mereka sudah mengumumkan lebih dari 100 fitur baru di Visual Suite, hampir satu peningkatan setiap dua hari. Itu artinya tool yang kamu pakai sekarang akan jauh lebih powerful dalam beberapa bulan ke depan.
Kedua, delayed IPO ke 2027 sebenarnya bisa jadi kabar baik buat pengguna. Artinya, Canva belum terlalu terburu-buru mengejar profitabilitas jangka pendek dengan memangkas fitur atau menaikkan harga secara agresif. Mereka masih dalam fase membangun, dan pengguna mobile di Indonesia adalah salah satu segmen yang paling mereka jaga. Ketiga, persaingan dengan Google Pics akan memaksa Canva tetap inovatif. Buat kamu yang kerja di bidang konten, pemasaran, atau desain, ini waktu yang tepat untuk memanfaatkan ekosistem AI yang makin terjangkau dan mudah diakses dari genggaman tangan.
Canva sudah membuktikan bahwa desain profesional nggak butuh laptop mahal atau software ribet. Yang dibutuhkan cuma HP dan kemauan untuk bereksperimen. Dengan AI yang makin canggih dan akses yang makin mudah, batas antara "yang bisa" dan "yang nggak bisa" di dunia kreatif makin tipis. Terserah kamu mau pakai kesempatan itu atau nggak.
Sumber: Fortune GadgetPilipinas Markets.com Capital Brief TechCrunch
Post By Team Bywira.com
Share this article
Related Articles
ArtStation Aktifkan NoAI by Default di Bawah KitBash, Seniman Masih Tuntut Larangan Total AI
Setelah diakuisisi KitBash, ArtStation bikin kebijakan baru: NoAI aktif default dan blokir AI scraper pakai Cloudflare. Tapi kenapa AI art masih diperbolehkan?

Google Pics Resmi Meluncur, Tool Desain AI yang Tantang Canva dan Adobe Express
Google Pics resmi diluncurkan ke publik pada 1 September 2026. Tool desain AI berbasis prompt ini langsung terintegrasi ke Google Workspace dan jadi pesaing langsung Canva serta Adobe Express.
Flyer AI yang Berantakan, Malah Jadi Peluang Emas buat Desainer Grafis
Desainer grafis mulai perang lawan flyer AI yang berantakan. Ternyata justru jadi peluang baru buat yang paham cara memanfaatkannya.