Assemblr Tembus 1 Juta Pengguna Global: Platform 3D Buatan Bandung yang Bikin Kreasi AR Semudah Canva
Assemblr, platform 3D dan AR buatan Bandung, tembus 1 juta pengguna global. No-code, drag-and-drop, dan sudah support Apple Vision Pro.
Membuat konten 3D biasanya butuh skill modeling bertahun-tahun, software berlisensi mahal, dan komputer yang bisa nge-handle rendering berat. Tapi kenyataannya, sekarang ada platform yang bilang: bikin 3D semudah Canva. Dan platform itu buatan anak Bandung yang namanya kini dikenal di 1 juta perangkat di seluruh dunia.
Assemblr: Dari Bandung ke 1 Juta Pengguna Global
Assemblr adalah platform augmented reality (AR) dan konten 3D yang berpusat di Bandung, Indonesia. Didirikan tahun 2018 oleh Hasbi Asyadiq, platform ini mengklaim dirinya sebagai "Canva for 3D and AR" karena memungkinkan siapa pun membuat konten 3D dan AR tanpa perlu bisa coding atau modeling.
Pada 12 Agustus 2026, Hasbi mengumumkan bahwa Assemblr kini telah digunakan oleh 1 juta pengguna di seluruh dunia dengan 100 ribu monthly active users dan sekitar 3 juta proyek yang sudah dibuat di platform ini. Angka ini termasuk pengguna dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Indonesia yang memanfaatkan Assemblr EDU untuk pembelajaran interaktif di kelas.
Yang menarik, sebelum booming di Indonesia, pengguna Assemblr justru datang mayoritas dari luar negeri, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan kawasan Timur Tengah-Afrika Utara (MENA). Indonesia baru menjadi negara nomor satu untuk pengguna Assemblr di sektor pendidikan setelah edukasi dan partner dengan Kemendikdasmen jalan.
Perusahaan ini sekarang punya 40+ karyawan dan revenue yang dilaporkan mencapai sekitar ,3 juta. Produk utamanya meliputi Assemblr Studio untuk bikin konten 3D/AR secara no-code, Assemblr EDU untuk dunia pendidikan, dan viewer yang sudah support Apple Vision Pro.

Kok Bisa Semudah Canva?
Inti dari Assemblr adalah drag-and-drop. Kamu tinggal pilih dari ribuan aset 3D yang tersedia, taruh di canvas, atur posisinya, dan publish. Hasilnya bisa langsung dilihat lewat gadget dalam format AR, di-embed di website, atau bahkan diintegrasikan ke Canva.
Buat yang lebih advance, ada fitur Visual Coding yang memungkinkan kamu bikin interaksi tanpa nulis kode satupun. Kamu bisa bikin simulasi, mini-game, atau pengalaman interaktif lainnya langsung dari browser. Jadi kalau kamu desainer grafis yang penasaran sama 3D tapi males belajar Blender dari nol, Assemblr bisa jadi pintu masuk yang nggak bikin frustasi.
Yang bikin Assemblr beda dari tools 3D lain adalah integrasinya. Kamu nggak perlu switch antara software modeling, game engine, dan publishing tool. Semua bisa dilakukan di satu platform. Aset 3D dari Blender, Maya, atau 3ds Max juga bisa di-import ke Assemblr lewat format FBX, jadi kalau kamu sudah punya karya sebelumnya, nggak perlu mulai dari awal.

Assemblr EDU dan ImajiNation 2026
Salah satu sebab angka pengguna Assemblr meroket adalah penetrasi mereka di sektor pendidikan. Assemblr EDU sudah masuk ke Learning Cabinet, sebuah platform curated untuk solusi EdTech yang diakui sebagai scalable dan impactful.
Di Indonesia sendiri, Assemblr berpartner dengan Kemendikdasmen dan Samsung untuk mengadakan ImajiNation 2026, kompetisi kreasi digital nasional terbesar bagi guru dan murid. Total hadiahnya ratusan juta rupiah, dan pesertanya diminta membangun proyek 3D serta AR menggunakan Visual Coding.
Di daerah 3T yang akses internet dan perangkatnya terbatas, guru-guru sudah mulai pakai Assemblr EDU buat bikin materi belajar yang lebih engaging. Siswa bisa lihat model anatomi manusia, tata surya, atau artifact budaya dalam AR langsung dari HP mereka, tanpa perlu lab komputer canggih. Ini contoh nyata bagaimana teknologi 3D bisa merata ke semua lapisan masyarakat.
Tak Takut AI, Justru Peluk AI
Ketika banyak desainer dan kreator cemas soal AI yang bakal menggantikan pekerjaan mereka, Hasbi Asyadiq justru punya sudut pandang berbeda.
"Di setiap kemajuan teknologi pasti ada pro dan kontra. Dalam skala AI, pro dan kontranya juga makin kencang," kata Hasbi. Tapi menurutnya, perusahaan teknologi harus beradaptasi, bukan menolak. "Kita tidak bisa terus bertahan dengan pipeline atau cara-cara lama, kita harus beradaptasi."
Yang menarik, Assemblr sendiri sudah mulai mengintegrasikan AI ke dalam platform mereka. Mereka bahkan punya AI agent internal yang mereka sebut "Perang Ajaib", sebuah agent yang dipasang di Slack buat menganalisis user behavior, termasuk data pembayaran dari kota mana dan jam berapa user aktif. Pendekatan data-driven ini menunjukkan bahwa Assemblr nggak cuma jualan tools, tapi juga serius soal growth dan retention.
"Bagi kami justru ini opportunity karena nature kami adalah perusahaan teknologi," tambah Hasbi. Kalau AI bisa generate scene 3D dari deskripsi teks, bayangkan betapa mudahnya bikin konten AR di masa depan.
Pelajaran buat Freelancer dan Desainer Indonesia
Cerita Assemblr ini punya beberapa takeaway yang bisa kamu ambil langsung.
Pertama, jangan remehkan produk buatan lokal. Platform 3D buatan Bandung ini sudah tembus pasar global dan bersaing dengan nama-nama besar. Kalau kamu freelancer atau kontributor microstock, coba explore Assemblr sebagai channel baru buat jual skill 3D kamu. Format interaktif yang dihasilkan Assemblr bisa jadi nilai jual tambahan di portfolio kamu.
Kedua, AI bukan musuh kalau kamu tahu cara pakainya. Hasbi memilih melihat AI dari sisi peluang, bukan ancaman. Desainer yang bisa combine skill manual dengan AI tools bakal punya advantage besar di 2026 dan seterusnya.
Ketiga, pendidikan adalah pasar yang nggak pernah mati. Assemblr EDU menunjukkan bahwa ada demand besar untuk tools 3D yang accessible di dunia pendidikan. Kalau kamu bisa bikin konten edukatif 3D, peluangnya sangat terbuka.
Dengan 1 juta pengguna, 100K monthly active users, 3 juta proyek yang sudah dibuat, dan integrasi AI yang mulai jalan, Assemblr layak masuk radar setiap desainer dan kreator Indonesia. Platform ini membuktikan bahwa kita nggak harus selalu pakai tool luar negeri buat bikin konten 3D yang keren.
Post By Team Bywira.comShare this article
Related Articles

CorelDRAW 2026 Resmi Rilis: Fitur AI Baru yang Bikin Proses Desain Makin Cepat
CorelDRAW Graphics Suite 2026 hadir dengan AI Generate, background remover, masking otomatis, dan konsep Artist Intelligence yang tetap menjaga peran desainer. Startup 3x lebih cepat, PDF/X-4 support, dan sistem kredit AI.
Figma Turun Harga 71%: Kode Mereka buat Nge-lock Desainer di Ekosistem AI
Figma memotong harga langganan hingga 71% dari $55 menjadi $16 per bulan. Bukan sekadar diskon, tapi strategi besar untuk mengunci desainer ke ekosistem AI mereka.
Adobe Firefly Sekarang Bisa Bikin Musik, Voiceover, dan Sound Effects
Adobe Firefly resmi merilis tiga fitur audio AI: Generate Music, Generate Speech, dan Generate Sound Effects. Semua commercially safe untuk kebutuhan komersial.