Buku Konsep Spider-Man Ketahuan Pakai AI, tapi Jessica Walsh Bilang Desainer Tetap Dibutuhkan
Art book Spider-Man: Brand New Day tertangkap menggunakan AI untuk konsep seni, sementara desainer kenamaan Jessica Walsh menulis esai bahwa desain tidak mati di era AI. Apa artinya untuk kreator Indonesia?
Seniman Tak Sengaja Kedapatan Pakai AI di Buku Konsep Spider-Man

Bayangkan kamu beli art book Spider-Man: Brand New Day seharga puluhan ribu. Buku setebal 208 halaman itu berisi konsep seni dari film box office $2 miliar dari Sony Pictures. Tapi saat kamu buka halaman "Big City, Little Spider" karya Scott McInnes, ada sesuatu yang aneh. Taksi-taksi di kota New York tampak melebur satu sama lain, dan tangga darurat bangunan tampak meleleh dan berubah bentuk secara tidak wajar. Itu bukan gaya artistik. Itu artefak khas AI.
Para fans langsung menandai anomali tersebut di media sosial. Dalam hitungan jam, komentar membanjiri Twitter dan Reddit. Banyak yang marah karena mereka merasa ditipu. Buku konsep yang seharusnya menampilkan sentuhan tangan manusia ternyata menyimpan jejak AI image generator. The Direct dan Creative Bloq, yang dilaporkan oleh Joe Foley pada 22 Agustus 2026, mengonfirmasi bahwa elemen AI memang hadir dalam ilustrasi tersebut. Ini bukan sekadar masalah estetika, ini soal transparansi dan kejujuran terhadap penggemar yang membayar untuk karya seni otentik.
Kasus ini sebenarnya bukan yang pertama. DC Supergirl juga pernah menghadapi kritik serupa ketika konsep seni karakter Jason Momoa terindikasi menggunakan AI. Pola ini menunjukkan bahwa industri hiburan raksasa sedang berjuang dengan batas antara efisiensi dan integritas. Ketika studio besar mulai mencampurkan AI ke dalam pipeline kreatif tanpa keterangan yang jelas, mereka mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar uang: kepercayaan audiens.
Produser Spider-Verse Membuktikan AI Bukan Satu-satunya Jalan
Tapi tidak semua orang di industri yang sama. Produser Spider-Man: Beyond the Spider-Verse dengan tegas menyatakan bahwa film mereka sama sekali tidak menggunakan AI dalam proses produksi. Kutipan yang cukup kuat: "Salah satu tujuan utama kami adalah menciptakan gaya visual baru yang belum pernah terlihat di film CG studio mana pun, bukan mencuri rata-rata generik dan plagiaris dari karya seniman lain." Kalimat ini bukan sekadar pernyataan PR. Ini adalah komitmen artistik yang menempatkan kreativitas manusia di posisi utama.
Pernyataan ini menjadi penyeimbang yang penting. Di satu sisi, kita punya art book resmi yang ketahuan menyembunyikan jejak AI. Di sisi lain, ada tim produksi yang secara sadar memilih jalur yang lebih sulit demi integritas visual. Bedanya terletak pada niat. Spider-Verse memahami bahwa "gaya baru" yang autentik tidak bisa lahir dari mesin yang dilatih dengan karya orang lain. Gaya baru lahir dari keberanian manusia untuk bereksperimen, gagal, dan bangun kembali.
Kontras ini juga mengajarkan sesuatu tentang industri secara keseluruhan. Tidak semua penggunaan AI itu buruk, tapi konteks dan transparansinya yang menentukan. Ketika studio menggunakan AI tanpa keterangan, itu menipu. Ketika kreator secara terbuka menolak AI demi visi artistik yang lebih kuat, itu menginspirasi. Pilihan antara keduanya seharusnya tidak sulit, tapi kenyataannya banyak studio masih memilih jalan pintas.
Jessica Walsh Bertanya: Apakah Desain Sudah Mati di Era AI?
Sementara industri hiburan bergulat dengan etika AI, dunia desain grafis juga menghadapi pertanyaan fundamental. Jessica Walsh, pendiri agensi &Walsh dan mantan partner di Sagmeister & Walsh, menerbitkan esai penting di Adobe Design pada 21 Agustus 2026 yang berjudul "Is Design Dead in the Age of AI?" Jawaban singkatnya: tidak. Tapi jawaban panjangnya jauh lebih menarik.
Walsh tidak menulis dari posisi ketakutan. Dia menulis dari posisi seseorang yang sudah lama berkecimpung di industri dan memahami bahwa desain selalu berevolusi. Dia mengingatkan bahwa sejarah desain pada dasarnya adalah sejarah bertahan hidup dari berbagai tools baru. Offset printing pernah dianggap mengancam seni cetak manual. Desktop publishing pernah dianggap mengancam peran desainer grafis profesional. Internet pernah dianggap akan membunuh desain cetak sepenuhnya. Tapi semua tools itu justru memperluas cakupan desain, bukan mempersempitnya.
Yang membuat esai Walsh menonjol adalah analisisnya yang jujur tentang kelemahan AI. Dia menulis, "AI tidak gagal dengan cara yang menarik. AI gagal dengan cara yang membosankan." Kalimat ini sangat tepat. Ketika AI menghasilkan karya yang "cukup bagus", hasilnya terasa datar, tanpa jiwa, tanpa kejutan. Tidak ada ketidaksempurnaan yang justru membuat sebuah karya memiliki karakter. Walsh memahami ini karena sepanjang kariernya, dia selalu mencari keunikan dalam ketidaksempurnaan.
Mengapa Kehadiran Manusia Masih Berharga

Salah satu poin paling kuat dari Walsh adalah tentang apa yang disebut "evidence of a human being." Dia menulis, "Bukti kehadiran manusia membawa informasi yang sudah dirangkai secara otomatis untuk kita terima." Artinya, ketika kamu melihat sebuah karya yang jelas dibuat oleh tangan manusia, ada koneksi emosional yang langsung terbentuk. Kamu tahu ada seseorang di balik setiap goresan, setiap pilihan warna, setiap komposisi yang mungkin sedikit tidak sempurna tapi justru karena itu terasa hidup.
Ini berbeda dengan karya AI yang terlihat "sempurna" tapi kosong. AI bisa menghasilkan komposisi yang secara teknis benar, tapi tidak bisa menanamkan pengalaman hidup, frustrasi, kegembiraan, atau visi unik di dalamnya. Ketika kamu mengetahui bahwa sebuah karya dibuat oleh manusia yang bangun jam 3 pagi karena terinspirasi, atau yang gagal puluhan kali sebelum menemukan komposisi yang tepat, itu menambahkan lapisan makna yang tidak bisa direplikasi oleh mesin.
Ini juga menjelaskan mengapa skandal AI di art book Spider-Man begitu mengganggu. Bukan hanya soal kualitas visualnya yang buruk. Tapi soal hilangnya koneksi antara pencipta dan penikmat. Penggemar Spider-Man membeli art book karena mereka ingin melihat bagaimana dunia favorit mereka dibayangkan oleh tangan-tangan kreatif manusia. Ketika mereka mengetahui bahwa beberapa karya ternyata dihasilkan oleh mesin, koneksi itu rusak. Mereka merasa kehilangan sesuatu yang personal, meskipun tidak bisa selalu menjelaskan secara eksplisit apa yang hilang.
Lima Hal yang Bisa Kamu Lakukan sebagai Desainer di Tengah Badai AI
Walsh tidak hanya mengkritik. Dia juga memberikan lima tips konkret untuk desainer yang ingin bertahan dan berkembang di tengah dominasi AI. Tips pertama: kembangkan sesuatu yang benar-benar milikmu. Bukan gaya yang terinspirasi dari tren, tapi sesuatu yang lahir dari pengalaman, ketertarikan, dan preferensi pribadimu yang unik. Ini mungkin terdengar sederhana, tapi banyak desainer yang justru kehilangan identitas mereka karena terlalu sibuk mengikuti apa yang AI dan tren media sosial sedang dorong.
Tips kedua, lembutkan ketidaksempurnaan. Alih-alih berusaha tampil "sempurna" seperti output AI, Walsh menyarankan untuk merangkul kesalahan dan ketidakteraturan sebagai bagian dari proses kreatif. Tips ketiga, biarkan pengaruhmu menjadi aneh dan luas. Jangan hanya terinspirasi dari desainer lain. Baca buku sastra, dengarkan musik genre yang belum pernah kamu coba, kunjungi museum seni kontemporer. Semakin beragam input-mu, semakin unik output-nya.
Tips keempat dan kelima juga krusial: bangun hubungan nyata dengan orang, dan andalkan taste serta ide. AI tidak bisa menghadiri pertemuan klien dan membaca emosi di ruangan. AI tidak bisa memiliki "selera" yang terbentuk dari bertahun-tahun hidup dan belajar. Walsh memahami bahwa dalam industri kreatif, hubungan manusia dan kemampuan memilih mana ide yang layak dikejar adalah sesuatu yang tidak bisa diotomatisasi. Type foundry miliknya, Type of Feeling, adalah contoh nyata dari filosofi ini: setiap huruf dibuat dengan mempertimbangkan emosi dan makna, bukan sekadar estetika teknis.
AI Bukan Musuh, Tapi Cermin yang Mengungkap Kekurangan Kita
Jika kita tarik benang dari kedua cerita ini, Spider-Man dan Jessica Walsh, sebuah pola menarik muncul. AI bukan sekadar ancaman bagi kreator. AI adalah cermin yang memperlihatkan di mana industri selama ini sudah goyah. Skandal di art book Spider-Man bukan terjadi karena AI jahat. Itu terjadi karena ada tekanan untuk menghasilkan konten lebih cepat dan lebih murah, tekanan yang sudah ada jauh sebelum AI populer. AI hanya mempercepat dan memperjelas masalah yang sudah tersembunyi.
Demikian juga, pertanyaan Walsh "Apakah desain sudah mati?" sebenarnya mengajak kita untuk melihat ke dalam. Jika desainmu bisa digantikan oleh AI murni, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan kemampuan AI-nya, tapi seberapa dalam kamu sudah menggali identitas kreatifmu sendiri. AI yang lemah dalam menghasilkan karya yang "menarik" seharusnya menjadi bukti bahwa manusia masih memiliki peran yang tidak tergantikan, selama mereka mau menjalankan peran itu dengan serius.
Profesor sejarah desain di berbagai universitas sudah mulai membahas hal ini. Mereka mengamati bahwa siswa desain generasi baru yang terlalu bergantung pada AI cenderung menghasilkan karya yang homogen dan tanpa karakter. Sementara siswa yang masih rutin membuat sketsa tangan, mengeksplorasi berbagai medium, dan berdiskusi tentang karya mereka dengan sesama, justru mengembangkan suara kreatif yang kuat. Pola ini konsisten dengan apa yang Walsh sarankan: keunikan lahir dari kedalaman pengalaman, bukan dari kecepatan produksi.
Refleksi: Menjadi Kreator yang Tidak Bisa Digantikan
Di akhir esainya, Walsh tidak menawarkan solusi instan. Dia menawarkan arah. Baginya, desain tidak mati, tapi sedang menjalani "revisi" besar-besaran. Revisi ini bukan tentang menghapus semua yang sudah ada dan memulai dari nol. Ini tentang mengidentifikasi bagian mana dari praktik desain yang harus diperkuat, dan bagian mana yang boleh diserahkan ke teknologi.
Kamu, sebagai kreator, punya pilihan. Kamu bisa menggunakan AI sebagai alat bantu untuk brainstorming, riset, atau eksplorasi awal. Tapi kamu juga harus memastikan bahwa karya akhirmu memiliki sidik jari yang tidak bisa diabaikan. Ketika seseorang melihat hasil kerjamu, mereka harus bisa merasakan bahwa ada manusia di baliknya, dengan semua ketidaksempurnaan, keberanian, dan visi yang menyertainya.
Kasus Spider-Man mengajarkan kita tentang transparansi. Kasus Jessica Walsh mengajarkan kita tentang identitas. Bersama-sama, kedua cerita ini mengingatkan bahwa kreativitas manusia bukan tentang kemampuan menghasilkan gambar yang indah. Kreativitas manusia adalah tentang membuat pilihan, mengambil risiko, dan berdiri di balik karya yang kamu hasilkan. Dan itu, setidaknya untuk sekarang, adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh mesin mana pun.
Sumber
Sumber: Creative Bloq: Spider-Man AI Scandal Adobe Design: Jessica Walsh - Is Design Dead? The Direct: Spider-Man AI Concept Art
Post By Team Bywira.com
