Spanyol Rp121 Miliar untuk Penpot, Desainer Indonesia Wajib Tahu Soal Desain Bebas Figma
Kamu pernah ngeluarin duit buat bayar Figma padahal fitur yang dipakai cuma 10% dari total yang ada? Kabar terbaru dari Spanyol mungkin bisa jadi angin segar. Pemerintah Spanyol baru saja menggelontorkan dana untuk mendukung Penpot, sebuah platform desain open source yang ambisinya jelas: menantang
Kamu pernah ngeluarin duit buat bayar Figma padahal fitur yang dipakai cuma 10% dari total yang ada? Kabar terbaru dari Spanyol mungkin bisa jadi angin segar. Pemerintah Spanyol baru saja menggelontorkan dana untuk mendukung Penpot, sebuah platform desain open source yang ambisinya jelas: menantang dominasi Figma di pasar desain global.
Angkanya lumayan serius, bukan sekadar alat sampingan yang cuma dijajal lalu dilupain. Ini soal skala, kebijakan, dan masa depan cara kita bekerja sebagai desainer.
€6.9 Juta dari Spanyol untuk Sebuah Tool Desain Gratis
Kaleidos, sebuah perusahaan teknologi yang berpusat di Madrid, berhasil mengumpulkan €6.9 juta (sekitar Rp121 miliar) dalam putaran pendanaan awal (early VC round). Yang menarik, pemerintah Spanyol turun langsung lewat SETT, unit di bawah Kementerian Transformasi Digital. Kontribusi dari SETT sendiri mencapai €1.92 juta, dialirkan melalui fasilitas Next Tech yang dananya bersumber dari program pemulihan ekonomi Uni Eropa, Next Generation.
Artinya, ini bukan cuma urusan startup biasa yang cari investor. Negara di belakangnya. Pemerintah Spanyol secara eksplisit menyatakan bahwa mereka bertaruh pada kedaulatan digital Eropa, talenta lokal, dan open source. Kutepatan pernyataan menteri digital Spanyol cukup tajam: mereka tidak ingin desain dan IP kreatif terjebak di platform milik perusahaan Amerika.
Sebagai perbandingan, angka €6.9 juta ini menempatkan Kaleidos di persentil ke-92 dari seluruh kesepakatan early VC di sektor enterprise software Spanyol sepanjang masa. Ini bukan angka kecil untuk ukuran startup Eropa, apalagi yang bergerak di ranah open source.
Apa Itu Penpot dan Kenapa Ini Bukan Sekadar "Figma Gratis"
Penpot adalah platform desain kolaboratif open source yang dibangun oleh Kaleidos. Bukan cuma soal bisa dipakai tanpa bayar, tapi ada filosofi berbeda di balik arsitekturnya. Penpot menggunakan pendekatan "design as code", yang artinya file desain bisa diperlakukan seperti kode: version control, branching, dan kolaborasi yang lebih natural antara desainer dan developer.
Buat kamu yang pernah frustrasi harus mengekspor kode dari Figma lalu ngoding ulang di environment development, konsep ini langsung nyambung. Di Penpot, handoff antara desainer dan developer nggak harus pakai keranjang tahu (figma export), tapi bisa langsung dari satu platform. Workflow-nya dibuat untuk kolaborasi lintas disiplin, bukan cuma untuk desainer sendirian.
Saat ini Penpot sudah memiliki lebih dari 250.000 pengguna. Jumlah ini memang masih jauh di bawah Figma yang mencapai puluhan juta, tapi perlu diingat bahwa Penpot baru mulai serius didorong sejak beberapa tahun terakhir. Basis pengguna yang sudah ada menunjukkan ada demand nyata untuk alternatif open source.
Penpot juga mendukung integrasi workflow AI generatif secara native, sesuatu yang tidak semua tool desain utama tawarkan tanpa plugin tambahan. Di tengah maraknya tren AI dalam desain, Penpot tidak mau ketinggalan kereta.
Kaleidos: Perusahaan di Balik Penpot dengan Daftar Klien Mentereng
Kaleidos bukan startup kemarin sore. Didirikan pada tahun 2011 di Madrid, mereka sudah punya pengalaman panjang di industri teknologi. Daftar klien mereka cukup mengesankan: Inditex (perusahaan induk Zara), Decathlon, Scotland Yard (kepolisian London), dan University of Lausanne di Swiss. Jadi ini bukan tim indie yang baru belajar bikin tool, melainkan perusahaan yang track record-nya terbukti di level enterprise.
Yang menarik dari Kaleidos adalah komposisi timnya. 60% anggota tim mereka adalah perempuan. Di industri tech yang masih didominasi laki-laki, angka ini patut diperhatikan. Bukannya ini jadi satu-satunya metrik untuk menilai sebuah perusahaan, tapi setidaknya menunjukkan ada pola kerja yang berbeda dari kebanyakan startup teknologi.
Kaleidos juga aktif di komunitas open source. Selain Penpot, mereka punya beberapa proyek lain yang mendukung ekosistem open source di Eropa. Pendekatan mereka yang konsisten selama lebih dari satu dekade jadi alasan kenapa pemerintah Spanyol percaya untuk menyalurkan dana publik ke mereka.
Mengapa Desainer Indonesia Harus Perhatikan Ini
Jika kamu seorang desainer Indonesia yang bergantung pada Figma atau Canva, kabar ini punya dampak langsung. Kita semua pernah merasakan ketika harga langganan naik tanpa peringatan. Mimin ingat betul bagaimana komunitas desainer Indonesia ramai membahas kenaikan harga Figma dan Canva yang bikin kantong teriak.
Freelancer yang klien-klien lokalnya rate-nya masih Rp3-5 juta per proyek harus putar otak tiap kali tool subscription naik $5. Belum lagi kalau mau pakai fitur advanced yang terkunci di paket Organization. Penpot, sebagai open source, menawarkan jalur alternatif di mana kamu nggak pernah terjebak dalam siklus kenaikan harga yang nggak bisa kamu kontrol.
Artikel Bywira sebelumnya sudah pernah membahas soal Figma yang menurunkan harga untuk beberapa paket. Tapi kenyataannya, strategi pricing seperti itu bisa berubah kapan saja. Ketika sebuah platform milik swasta memegang semua desain kamu di dalam sistem mereka, leverage negosiasi kamu sebagai desainer sangat terbatas. Dengan Penpot, file kamu adalah file kamu, berformat open, dan bisa dipindah ke platform lain kapan pun.
Bagi tim desain di studio atau agensi, Penpot juga menawarkan keunggulan kolaborasi antara desainer dan developer yang selama ini jadi sakit kepala. Nggak perlu lagi pakai Zeplin terpisah untuk handoff. Nggak perlu lagi debat soal Spacing dan padding yang "keliatan beda" di browser. Design as code artinya apa yang kamu lihat di canvas lebih dekat dengan apa yang akan muncul di produk jadi.
Open Source Bukan Lagi Opsi Kelas Dua
Selama ini ada stigma bahwa tool open source itu "gratis tapi nggak sebagus yang premium". Penpot berusaha mengubah persepsi itu. Dengan pendanaan serius dari pemerintah dan investor, mereka punya resources untuk bersaing dalam hal fitur, bukan cuma harga.
Fakta bahwa pemerintah sebuah negara UE bersedia menggelontorkan dana hampir Rp121 miliar untuk sebuah tool desain open source menunjukkan pergeseran paradigma. Ini bukan lagi soal "open source untuk yang nggak mampu bayar", tapi soal kedaulatan data dan kemandirian digital. Spanyol, sebagai salah satu ekonomi terbesar di Eropa, mengirim sinyal bahwa mereka tidak nyaman jika infrastruktur kreatif mereka bergantung sepenuhnya pada platform asing.
Konsep kedaulatan digital ini relevan juga untuk Indonesia. Sebagai negara dengan jutaan kreator dan desainer, berapa persen desain produk Indonesia saat ini tersimpan di server milik perusahaan Amerika? Pertanyaannya bukan berapa biaya langganannya, tapi siapa yang mengontrol data kreatif kita.
Ekosistem open source di bidang desain juga terus berkembang. Blender sudah membuktikan bahwa open source bisa menjadi standar industri di ranah 3D. Penpot sedang mencoba melakukan hal yang sama untuk desain UI/UX dan grafis vektor. Dengan momentum ini, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, workflow standar desainer sudah mencakup tool open source sebagai komponen utama.
Apa Selanjutnya untuk Penpot dan Komunitas Desainer?
Dengan €6.9 juta di tangan dan dukungan pemerintah, Kaleidos punya runway yang cukup untuk mengembangkan Penpot secara signifikan. Prioritas mereka kemungkinan besar adalah memperluas ekosistem plugin, memperkuat kemampuan AI generatif, dan menarik lebih banyak kontributor open source untuk terlibat.
Untuk desainer Indonesia yang penasaran, Penpot bisa langsung dicoba gratis di penpot.app. Nggak perlu kartu kredit, nggak perlu izin dari bos, dan nggak ada batasan waktu trial. Kamu bisa import file Figma ke Penpot dan langsung merasakan bedanya. Kalau workflow-nya cocok, ini bisa jadi bagian dari strategi diversifikasi tool yang lebih sehat.
Ingat, punya alternatif bukan berarti kamu harus langsung meninggalkan Figma atau Canva. Tapi mengetahui bahwa ada opsi lain yang serius, didukung oleh negara, dan berbasis open source itu penting. Karena kalau suatu hari harga naik lagi atau fitur yang kamu pakai dipindah ke paket yang lebih mahal, setidaknya kamu sudah punya rencana cadangan.
Perjalanan menuju desain yang lebih independen dimulai dari mencoba alat baru. Dan Penpot, dengan segala dukungan yang baru saja mereka dapatkan, layak masuk dalam radar kamu.
Post By Team Bywira.comShare this article
Related Articles
AI Literacy untuk Desainer dan Freelancer: Kenapa Skill Ini Lebih Penting dari yang Kamu Pikir
91 persen desainer sudah pakai AI tiap minggu. Kalau kamu masih belum paham AI literacy, inilah saatnya mulai belajar.
Meta Luncurkan Pocket: Buat Mini Game dari Tulisan, Tanpa Ngoding
Meta merilis Pocket, aplikasi yang bikin mini game interaktif dari deskripsi teks. Tanpa ngoding, kamu bisa bikin gizmo yang bisa dimainkan, di-remix, dan dibagikan. Ini dampaknya buat kreator Indonesia.
NVIDIA SIGGRAPH 2026: Agentic AI dan Physical AI yang Bakal Ubah Cara Kerja Desainer 3D
NVIDIA SIGGRAPH 2026 mengumumkan DLSS 5, Cosmos 3 Edge, Newton physics engine, dan Agent Toolkit. Agentic AI dan Physical AI bukan cuma untuk studio besar, tapi juga untuk freelancer dan tim kecil.