Google Gemini Jadi Mitra Kreatif 3 Label Mode Indonesia: Dari Riset Budaya hingga Sketsa 3D
Google Indonesia memperkenalkan inisiatif With Gemini In Craft bersama KRATON, STELLARISSA, dan TWO STITCHES. Tiga label mode lokal ini membuktikan AI bisa mempercepat riset budaya, mengubah sketsa menjadi figur 3D, dan menjembatani kolaborasi lintas negara tanpa menghilangkan sentuhan tangan desainer.
Bayangkan sebuah gaun pengantin untuk putri maestro Enrico Soekarno. Bukan sekadar potongan kain yang indah, melainkan sebuah karya yang harus memahami silsilah keluarga, meresap budaya Jawa dan Latvia sekaligus, serta menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing yang tersebar di arsip internasional. Auguste Soesastro, desainer di balik label KRATON, harus melakukan semua itu untuk koleksi adibusana bagi Kenya Kamalashila Soekarno. Dan Gemini, asisten AI dari Google, membantunya menembus labirin riset yang dulu butuh waktu berbulan-bulan.
Kisah ini bukan fantasi. Ini adalah salah satu dari tiga studi kasus nyata yang ditampilkan Google Indonesia dalam inisiatif "With Gemini, In Craft" pada 3 September 2026 lalu, di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tiga label mode Indonesia, KRATON, STELLARISSA, dan TWO STITCHES, menunjukkan bagaimana AI bisa menjadi mitra kreatif yang nyata di studio mereka, bukan sekadar tren yang berlalu.
Fashion Indonesia: Ikan Besar yang Masih Terus Tumbuh
Sebelum membahas bagaimana Gemini masuk ke studio desain, ada baiknya kamu tahu betapa besarnya industri ini. Pada awal 2026, sektor mode menyumbang 58,55 persen dari total ekspor barang kreatif Indonesia. Angka itu bukan cuma sebatas devisa. Di baliknya ada 27,4 juta pekerja kreatif Indonesia yang tersebar dari Yogyakarta sampai Berlin, dari sanggar batik tradisional sampai label streetwear yang ekspor ke Eropa.

Mira Sumanti, Senior Brand Creative and Social Marketing Lead Google Southeast Asia, menyebut mode, kuliner, dan kriya sebagai tiga pilar utama penyerap tenaga kerja terbesar di ekonomi kreatif Indonesia. "It's a big part of the economy," katanya saat jumpa pers di Jakarta, 3 September 2026. Dengan potensi sebesar ini, tidak heran kalau Google ingin memperlihatkan bagaimana teknologi bisa mendukung pertumbuhan industri ini tanpa menggerus kreativitas manusia di dalamnya.
"Mind, Thread, Vision": Acara yang Mempertemukan AI dan Tangan Pengrajin
Berbicara tentang AI di dunia fashion memang selalu memancing pertanyaan yang sama: apakah mesin akan menggantikan desainer? Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, membuka acara dengan pesan yang tegas. "Teknologi mencapai potensi terbaiknya ketika memberdayakan imajinasi manusia," ujarnya. Pernyataan itu bukan sekadar tagline pemasaran, melainkan fondasi dari seluruh inisiatif ini.
"With Gemini, In Craft" menempatkan Gemini sebagai mitra yang personal, proaktif, dan andal di studio. Tugasnya menyederhanakan riset yang rumit, mengubah sketsa menjadi format multimedia beragam, dan membantu pertumbuhan komersial. Tiga label mode dipilih karena mewakili pendekatan kreatif yang berbeda. KRATON untuk riset budaya mendalam, STELLARISSA untuk pengembangan IP digital, dan TWO STITCHES untuk efisiensi produksi lintas negara.
KRATON dan Riset Budaya yang Mendalam
Auguste Soesastro dari KRATON adalah tipe desainer yang percaya bahwa karya couture harus lahir dari pemahaman yang kaya tentang konteks di belakangnya. Untuk koleksi adibusana Kenya Kamalashila Soekarno, ia harus memahami lebih dari sekadar potongan dan siluet. Ada silsilah keluarga yang harus ditelusuri, arsip internasional yang harus diakses, dan dokumen berbahasa asing yang harus diterjemahkan.
Di sinilah Gemini Deep Research dan NotebookLM masuk. Auguste menggunakan keduanya untuk mengakses arsip dari berbagai negara, menerjemahkan dokumen sejarah, serta memetakan informasi tentang garis keturunan dari beberapa wilayah leluhur. Hasilnya, ia bisa menggabungkan elemen budaya Jawa dan Latvia dalam satu koleksi dengan referensi yang terverifikasi. Gemini membantunya menyusun mind map, memastikan setiap inspirasi budaya punya sumber yang jelas, dan membuat creative dossier yang terstruktur.

Namun Auguste tidak lupa batasannya. "Kalau taste itu enggak bisa diprogram. Taste itu adalah required taste from a living experience of human. AI, ChatGPT, Gemini adalah tools, tapi human living experience cannot be replaced," katanya. Baginya, Gemini adalah jembatan untuk mempercepat riset, bukan pengganti pengalaman hidup yang membentuk selera kreatif seorang desainer.
STELLARISSA: Dari Airbrush Hingga Figur 3D
Stella Rissa punya cerita yang lebih personal. Starlet, tokoh imajinatif yang ia gambar sejak 2021 saat pandemi COVID-19, lahir dari sapuan watercolor di atas kertas. Kebutuhan akan busana nyaman di masa isolasi membuka jalan bagi Stella dan tim untuk menciptakan sesuatu yang berbeda, dan Starlet menjadi simbol dari pencarian itu.
Bersama Gemini, Starlet berevolusi dari ilustrasi tangan menjadi IP digital yang bisa tampil dalam berbagai format. Figur tiga dimensi yang bisa dilihat dari sudut 360 derajat, character sheet yang menjaga konsistensi visual, hingga konsep serial animasi podcast dan collectible toys. Dengan tool generasi gambar Gemini, Stella bisa menjaga konsistensi karakter Starlet saat dikembangkan menjadi ilustrasi, model 3D, maupun video.
Penting untuk dicatat bahwa proses kreatif Stella tidak berawal dari AI. Goresan tangan, pengalaman pandemi, dan imajinasi yang sudah hidup selama bertahun-tahun menjadi fondasi utama. Gemini berperan memperluas cakrawala visual yang sebelumnya dibangun secara manual, membuka kemungkinan format baru tanpa menghilangkan esensi dari karya awal.
TWO STITCHES: Kolaborasi Lintas Benua dengan Sketsa Tangan
Andi Tan dan Jerome Kurnia mendirikan TWO STITCHES dengan tim yang tersebar di tiga kota: Jakarta, Bali, dan Berlin. Jarak itu menuntut cara berkomunikasi kreatif yang lebih efisien. Proses mereka tetap dimulai dari tangan manusia, dari coretan di atas kertas. Foto dan video dari gambar tangan itu kemudian menjadi titik berangkat eksplorasi bersama Gemini.
Melalui Gemini, tim TWO STITCHES bisa mencoba beragam alternatif warna, material, bentuk, serta tampilan busana. Mereka memutar tampilan, mengganti warna atau fabric, dan melihat bagaimana rancangan menempel pada tubuh ketika dikenakan model. Untuk koleksi terbaru "MRTYNY", sketsa konseptual diubah menjadi simulasi jatuh kain 3D dan pengepasan virtual pada model simulasi. Hasilnya, waktu pembuatan sampel fisik yang sebelumnya berbulan-bulan kini bisa dipangkas menjadi hitungan hari.
Selain aspek visual, TWO STITCHES juga menggunakan Gemini untuk analisis pasar prediktif dan tolok ukur harga. Pendekatan ini mereka sebut sebagai "data-informed craft". Konsepnya sederhana: data membantu meminimalkan pemborosan akibat produksi berlebih, sementara keputusan kreatif tetap di tangan desainer. Jarak antara Jakarta dan Berlin bukan lagi penghalang ketika kedua belah pihak bisa bereksplorasi dari referensi visual yang sama.
Indonesia di Top 5 Pengguna Gemini Global
Pilihan Google untuk menggandeng label mode Indonesia bukan kebetulan. Indonesia kini menempati peringkat lima besar dunia dalam penggunaan Gemini. Sekitar 32 persen penggunaan Gemini terkait aktivitas kreatif, mulai dari membuat musik, gambar, hingga video. Para pengguna di Indonesia menghasilkan hampir sembilan juta gambar melalui Gemini setiap hari, angka tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Karakter penggunaan Gemini di Indonesia juga unik. Satu dari dua prompt bersifat multimodal, yakni memadukan teks dengan gambar atau video. Artinya, orang Indonesia tidak hanya mengetik pertanyaan, mereka menggabungkan referensi visual dengan instruksi teks. Sekitar 82 persen akses dilakukan melalui ponsel, menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, bukan hanya di meja kerja kantor. Veronica Utami menegaskan komitmen Google untuk terus berkolaborasi dengan kreator lokal, mendukung usaha kecil, dan merayakan warisan budaya.
Pelajaran untuk Desainer dan Freelancer Kreatif
Ketiga label ini punya pendekatan yang berbeda terhadap Gemini, namun ada satu benang merah yang sama. Mereka tidak memulai dari AI. Auguste memulai dari pengalaman hidup dan selera budaya. Stella memulai dari sapuan watercolor dan imajinasi saat pandemi. Andi dan Jerome memulai dari coretan tangan di atas kertas. AI masuk sebagai perpanjangan dari proses kreatif yang sudah ada, bukan penggantinya.
Jika kamu desainer, ilustrator, atau freelancer kreatif yang sedang bertanya-tanya apakah AI relevan dengan pekerjaanmu, ketiga studi kasus ini menawarkan beberapa pelajaran konkret. Gemini bisa mempercepat riset yang sebelumnya memakan waktu lama. Bisa membantu memvisualisasikan ide dalam berbagai format sebelum kamu berkomitmen memproduksi. Bisa menjembatani kolaborasi lintas kota atau lintas negara. Dan yang paling penting, semua keputusan kreatif tetap berada di tanganmu.
Pertanyaannya bukan apakah kamu harus pakai AI, tetapi di tahap mana AI bisa membantumu paling efektif. Coba lihat proses kreatifmu sekarang. Tahap mana yang paling banyak makan waktu tanpa memberikan nilai tambah pada karya? Riset referensi, visualisasi awal, kolaborasi tim, atau analisis pasar? Jawabannya berbeda untuk setiap orang. Dan mungkin jawaban itulah yang akan membawamu pada cara kerja yang lebih efisien tanpa mengorbankan keaslian kreativitas.
Sumber: indoposco.id fimela.com tabloidbintang.com mnctrijaya.com koktail.id youtube.com
Post By Team Bywira.comShare this article
Related Articles
Gururi Paint: Tool Gratis yang Bikin Kamu Bisa Gambar di Ruang 360 Derajat, Tanpa Install Apapun
Gururi Paint adalah tool browser gratis yang ngizinkan kamu menggambar sambil melihat ruang 360 derajat. Dibuat oleh ilustrator Jepang JUNOTA, tool ini langsung viral di komunitas kreatif global.

75% Pengguna Indonesia Akses Canva dari HP, Startup Ini Ditunda IPO-nya ke 2027
Canva mencatat 75% pengguna Indonesia mengakses platform dari HP. Pendapatan 4 miliar dolar, tapi IPO ditunda ke 2027 karena biaya AI. Persaingan dengan Google Pics makin ketat.
ArtStation Aktifkan NoAI by Default di Bawah KitBash, Seniman Masih Tuntut Larangan Total AI
Setelah diakuisisi KitBash, ArtStation bikin kebijakan baru: NoAI aktif default dan blokir AI scraper pakai Cloudflare. Tapi kenapa AI art masih diperbolehkan?